ADV 300x250 KS

BENNER UP

 


Tragedi di Balik Ompreng "Gizi": Ketika Makan Siang Menjadi Petaka Massal

Redaksi ITE '
Senin, 2/02/2026 WIB Last Updated 2026-02-02T04:08:16Z

INFO TERKINI-Hari itu, Rabu (28/01), matahari di Kudus menyengat seperti biasa. Di SMA Negeri 2 Kudus, ribuan siswa menyambut antusias kedatangan truk pengangkut ribuan ompreng Makan Bergizi Gratis (MBG). Siapa sangka, di balik tutup plastik itu, maut dan rasa sakit sedang mengintai dalam diam.

Menu siang itu tampak sederhana namun menjanjikan: soto ayam. Harapan akan tubuh yang lebih kuat justru berubah menjadi mimpi buruk nasional.

"Wi", seorang guru yang ikut menyantap menu tersebut, tak akan melupakan malam panjang itu. Saat dunia terlelap, badai mulai mengamuk di perutnya.

 "Jam dua malam saya diare hebat. Perut sakit luar biasa... awalnya saya kira karena pecel lele yang saya makan malamnya," ungkap Wi dengan nada getir.

Namun, fajar menyibak kenyataan yang lebih mengerikan. Di sekolah, Wi tidak sendirian dalam penderitaannya. Korban berjatuhan satu per satu. 

Pemandangan Horor di Koridor Sekolah
Pagi harinya, SMAN 2 Kudus berubah menjadi medan tempur medis. Suasana kelas yang tenang berganti dengan kepanikan luar biasa:
 * Antrean Panjang di Kamar Mandi: Siswa berlarian menahan sakit, bolak-balik hingga 10 kali ke toilet.

 * Wajah-Wajah Pucat: Remaja-remaja yang tadinya ceria berubah lesu, kulit mereka memucat kehilangan rona.

 * Pingsan Massal: Satu per satu siswa tumbang di lantai sekolah, tak kuat menahan dehidrasi dan nyeri yang menyayat.

Suasana semakin mencekam saat pihak sekolah mulai kewalahan. Puskesmas penuh, UKS sesak, hingga akhirnya suara sirine ambulans meraung-raung di halaman sekolah, menjemput 130 jiwa yang butuh pertolongan darurat.

Angka yang Bicara: 
Januari Berdarah
Kejadian di Kudus hanyalah puncak gunung es dari sebuah krisis kesehatan nasional. Sepanjang Januari 2026, data menunjukkan angka-angka yang membuat bulu kuduk berdiri:

| Periode | Wilayah | Estimasi Korban Keracunan 
| 1-13 Januari | Nasional (Catatan JPPI) | 1.242 Orang |
| Seluruh Januari | Jateng, Jatim, Sulawesi, NTT, NTB, dll | 1.929 Orang |
Hanya dua hari setelah tragedi Kudus, tepatnya Jumat (30/01), 132 pelajar di Manggarai Barat juga tumbang karena alasan yang sama.

Ironi Sertifikat dan Kepercayaan yang Runtuh
Yang paling menyakitkan bagi para orang tua adalah kenyataan bahwa penyedia makanan, SPPG Purwosari, sebenarnya telah mengantongi Sertifikat Laik Higienis Sanitasi (SLHS). Sebuah kertas yang nyatanya gagal melindungi anak-anak mereka dari bakteri mematikan.

Kini, dapur tersebut telah dipaksa berhenti beroperasi. Namun, trauma sudah terlanjur mengakar. Di rumah sakit, 52 siswa masih terbaring lemah, berjuang memulihkan diri dari makanan yang seharusnya memberi mereka "gizi".

"Wali murid menolak," pungkas Wi singkat. Sebuah pernyataan tegas bahwa kepercayaan rakyat pada program ini sedang berada di titik nadir.


Komentar

Tampilkan

  • Tragedi di Balik Ompreng "Gizi": Ketika Makan Siang Menjadi Petaka Massal
  • 0

Terkini

Iklan 728x90 KOMINFO AD