MAKASSAR-Suasana di Anjungan Pantai Losari, Makassar, Sulawesi Selatan dipadati oleh gabungan organisasi kemasyarakatan (ormas) dan pemuda dari berbagai daerah. Ratusan kader, mulai dari barisan pemuda Makassar hingga pengurus wilayah Sulawesi Tenggara (Sultra), tampak kompak mengenakan Pakaian Dinas Harian (PDH) organisasi masing-masing, menciptakan pemandangan bak "lautan PDH" yang solid.
Perhelatan akbar ini turut memukau para petinggi dan tokoh adat International Malay Cultural Arts Festival (INCaF). Pihak INCaF memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif ormas lokal yang konsisten melestarikan seni budaya tradisional di era modern. Berbagai atraksi tarian kolosal adat, musik etnik, hingga prosesi ritual kebudayaan sukses menyihir para delegasi asing yang hadir.
Ketua Umum Sulawesi Bersatu Sipakatau (SBS), Harianto Karaeng Tinggi, menegaskan bahwa Makassar selalu terbuka bagi persaudaraan lintas daerah maupun internasional.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Umum DPP Angkatan Muda Bumi Anoa Sulawesi Tenggara (AMBA Sultra), Stenly Diover, S.T., mengungkapkan bahwa perhelatan bertajuk "Mangkasara Molulo" ini menjadi momentum emas untuk mempererat persatuan lintas batas bangsa dan etnis.
"Ini adalah bukti nyata persatuan dan kekompakan kita. Melalui panggung
Mangkasara Molulo, kita mengirimkan pesan kuat ke seluruh penjuru Nusantara dan dunia bahwa kita adalah satu rasa, satu budaya, dan satu tujuan," tegas Stenly Diover.
Melalui suksesnya perhelatan ini, jaringan kemitraan antara penggiat budaya di Sulawesi dan rumpun Melayu internasional dipastikan akan semakin erat, sekaligus membuka peluang besar bagi promosi pariwisata daerah.(Tim/Red)







