INGIN MENJADI WARTAWAN, BEGINI CARANYA

Janganlah kamu pikirkan menjadi seorang wartawan itu sulit. Kamu juga bisa menjadi seorang wartawan cilik. Jika kamu menyukai tantangan dan keuletan, menjadi wartawan bukan pekerjaan yang sulit.


INGIN MENJADI WARTAWAN, BEGINI CARANYA


Janganlah kamu pikirkan menjadi seorang wartawan itu sulit. Kamu juga bisa menjadi seorang wartawan cilik. Jika kamu menyukai tantangan dan keuletan, menjadi wartawan bukan pekerjaan yang sulit. Justru akan menjadi pekerjaan yang mengasyikkan. Apakah kamu ingin mencobanya? Jangan bilang tidak. Kamu harus mencobanya. Tunjukkan kalau kamu berani menerima tantangan ini.

1. Mencatat Pokok-Pokok Pembicaraan

Tugas seorang wartawan adalah melakukan tanya jawab dengan narasumber. Di dalam tanya jawab itu terdapat pokok-pokok pembicaraan. Pokok-pokok pembicaraan merupakan hal-hal penting yang dibicarakan. Hal-hal penting itu meliputi unsur apa, siapa, di mana, mengapa, dan bagaimana suatu peristiwa. Bagaimana cara menemukan pokok-pokok pembicaraan dalam suatu tanya jawab atau wawancara?

2. Meringkas Penjelasan Narasumber

Kamu telah mencatat pokok-pokok pembicaraan. Hasil catatanmu itu perlu kamu ringkas. Bagaimana caranya? Perhatikan trik berikut ini.

Trik Meringkas Penjelasan Narasumber 
  • Bacalah kembali hasil catatanmu. 
  • Susunlah kembali hasil catatanmu secara urut. 
  • Ringkaslah isi wawancara berdasarkan pokok-pokok pembicaraan yang telah ditulis.
Hanya meringkas penjelasan narasumber masih kurang lengkap. Kamu perlu melaporkan hasil ringkasan itu di depan teman-temanmu. Bahkan kamu juga perlu menanggapinya.

3. Menanggapi Penjelasan Narasumber

Informasi dari narasumber yang kamu wawancarai perlu kamu tanggapi. Bukan sekadar menanggapi. Ada cara-cara tertentu. Bagaimana caranya? Yuk, kamu perhatikan trik berikut ini.

Trik Menanggapi Penjelasan Narasumber
  • Bacalah infornasi dari penjelasan narasumber dengan saksama. 
  • Carilah pokok-pokok informasi.
  • Tanggapi informasi dari narasumber itu dengan bahasa yang santun.
Misalnya: Menurut saya, menjadi seorang wartawan itu merupakan pekerjaan yang amat menyenangkan. Kita dapat bertemu banyak orang dan wawasan kita menjadi bertambah.

Nah, kamu telah mendapatkan bekal untuk menanggapi penjelasan narasumber. Sekarang,
lanjutkan kegiatanmu dalam petualangan berikut ini.

Inilah saatnya membuktikan kehebatanmu. Kamu akan berlatih sebagai seorang wartawan.
Kamu akan melakukan tanya jawab dengan seorang narasumber. Namun, sebelumnya
bekalilah dirimu dengan beberapa hal berikut ini.

Beberapa persiapan yang harus kamu lakukan sebelum melakukan tanya jawab
  • Tentukan tema berita Tetapkan tema berita yang ingin kamu gali. Tema berita dapat berupa masalah politik, ekonomi, budaya, hukum, atau pertanian. 
  • Tentukan tujuan meliput berita Tanyakanlah pada dirimu sendiri, apa tujuanmu meliput berita. Apa yang ingin kamu liput dari tokoh atau peristiwa? 
  • Tentukan narasumber Tentukan narasumber yang akan kamu wawancarai. Selain itu, kamu juga perlu mengetahui latar belakang narasumber. Latar belakang itu misalnya nama, pendidikan, pekerjaan, kegemaran, atau prestasinya. Hal ini bertujuan agar kamu lebih akrab dengan narasumber. 
  • Buatlah daftar pertanyaan Buatlah pertanyaan sebanyak-banyaknya. Isi pertanyaan bebas. Akan tetapi, mengarah kepada tema. Seleksilah pertanyaanmu itu. Pilihlah pertanyaan yang bermutu. Susunlah pertanyaan itu sehingga terlihat sambung menyambung atau sistematis.

Nah, bekal untuk melakukan tanya jawab dengan narasumber telah kamu dapatkan.

Ingin Menjadi Wartawan

Contoh teks wawancara

Dina : ”Vera, kemarin kamu mewawancarai siapa?”
Vera : ”Aku kemarin mewawancarai Bapak Sekretaris Wakil Daerah Bogor.”

Dina : “Wah, asyik dong!” “Bagaimana ceritanya?”
Vera : “Sebelum mewawancarai beliau, aku dapat pelatihan jurnalistik di sekolah dulu, loh.”

Dina : “Oh ya, apa yang kamu peroleh dari pelatihan itu?”
Vera : “Kita diajari bagaimana membuat daftar pertanyaan, menjaga kesantunan dalam wawancara,
cara mengajukan pertanyaan, cara menyusun berita, dan lain-lain.”

Dina : “Wah enaknya, jadi menyesal kemarin aku nggak ikut.”
Vera : “Kasian deh. Kamu sih, nggak mau ikut. Eh, Din, kamu mau tahu nggak, cerita aku pas wawancara Sekda Bogor itu?”

Dina : ”Mau banget lah!”
Vera : ”Aku berangkat menuju kantor Sekda dengan membawa kartu identitas,
notebook, dan bolpoin. Kemudian aku minta izin sama petugas Satpol PP untuk bertemu Sekda.”

Dina : ”Penampilan mereka serem nggak?
Vera : ”Enggak, mereka menyambut dengan ramah kok.”

Dina : ”Oh ya, terus bagaimana?”
Vera : ”Setelah itu, petugas Satpol PP mengantarkan aku ke ruangan Sekda Bogor, Bapak Rosadi, yang kebetulan lagi ada di ruang kerjanya. Beliau terkejut melihat kedatanganku. Kemudian menerimaku di ruang rapat.”.

Dina : ”Apa saja yang kamu tanyakan pada beliau?”
Vera : ”Aku menanyakan biodata beliau, tugas, dan suka duka beliau selama menjadi Sekda”.

Dina : ”Wah, kayaknya asyik ya. Terus apa lagi?”
Vera : “Di akhir wawancara, dia sempat memuji aku lo!”

Dina : ”Duh senangnya, emang beliau bilang apa?
Vera : ”Beliau kagum atas kecerdasan dan keberanianku dalam melontarkan sejumlah pertanyaan. Kemudian beliau berpesan kepada wartawan cilik agar menyajikan berita yang bersifat mencerdaskan bangsa. Bukan berita yang membuat bingung masyarakat.”

Dina : ”Setelah mendengar ceritamu, aku juga ingin menjadi warcil nih.”
Vera : ”Wah boleh banget, tapi jadi wartawan itu ada susah dan senangnya juga, lo.”

Dina : ”Emang apa susah dan senangnya?”
Vera : ”Susahnya, kita harus memahami semua persoalan yang akan kita tanyakan kepada narasumber. Senangnya, wartawan bisa jalan-jalan kemana saja sesuai tempat yang akan diliput.”

Dina : ”Iya sih, tapi aku mantap ikut jadi wartawan cilik kok.”
Vera : ”Sip lah, kalau begitu. Tahu nggak, aku sempat deg-degan ketika akan bertanya, karena takut pertanyaannya ditertawakan oleh narasumber. Awalnya deg-degan, tapi pas sudah mengeluarkan pertanyaan pertama ternyata lancar juga. Hehehe....”
Dina : ”Hahaha..., dasar kamu!”

Wawancara dengan Wartawan Senior


Mungkin tidak seorang wartawan pun yang belum mengenal namanya. Pak Jakob Oetama memang wartawan senior di Indonesia. Pak Jakob lahir di Borobudur, Magelang, 27 September 1931. Nah, selama hampir 50 tahun menjadi wartawan, Pak Jakob tidak hanya memimpin koran Kompas. 

Ia pun menjadi anggota Dewan Kehormatan PWI dan penasihat Konfederasi Wartawan ASEAN. Selain itu, ia pernah menjadi anggota DPR-RI. Sebelum menjadi wartawan, Pak Jakob menjadi guru di sebuah SMP di Jakarta. 

Memang sepantasnya beliau menjadi eyang bagi wartawan cilik. Betulkah Pak Jakob telah bercita-cita menjadi wartawan sejak kecil? Untuk mengetahuinya, wartawan cilik Korcil Republika Dyah Ayu Fitra Utami (SMP 104 Jakarta), F. Widiastuty Utami (SDN 03 Pagi Cipedak) dan Efiya Nur Fadila (SMP 41 Ragunan), mewawancarai Pak Jakob.

Jakob Oetama
Jakob Oetama
Nah, ikuti yuk wawancara keroyokan tiga wartawan cilik Korcil dengan Pak Jakob, untuk menyambut Hari Pers Nasional. 

Menjadi wartawan itu bagaimana, Pak?

Wartawan itu selain mempunyai otak yang cerdas, juga mempunyai hati yang peduli sama
orang, cenderung membela orang yang susah dan terlantar, tidak enak dengan kekuasaan. Itu ciri khas wartawan.

Apa saja yang harus dimiliki wartawan?

Sifat yang cocok dimiliki wartawan adalah lincah otaknya dan gelisah hatinya. Dia tidak bisa
terima begitu saja apa yang diperolehnya. Dia akan cari terus, kenapa kok begini, kok begitu. Wartawan harus terbuka, tidak punya prasangka buruk, mau bekerja keras. Pengetahuan umum juga perlu dimiliki seorang wartawan.

Koran atau majalah yang baik itu yang bagaimana?

Yang enak dan mudah dibaca itu Republika. Pendekatannya sangat menonjolkan sisi kemanusiaan, menghibur, tidak hanya memberi informasi, tetapi enak dibaca, tidak berat. Barangkali kalau Kompas berat (Pak Jakob tertawa).

Perbedaan wartawan dulu dengan sekarang itu apa?

Kalau dulu itu segala sesuatu serba sederhana. Selain hidup sederhana, masalah yang diliput juga sederhana. Menulis berita masih pakai mesin ketik, belum ada komputer. Kalau wartawannya bisa naik kendaraan roda dua sudah beruntung, dulu umumnya naik kendaraan umum. Wartawan sekarang pekerjaannya lebih berat, karena masyarakat maupun kejadian kejadian yang harus diliput lebih rumit, tidak hanya meliput di Indonesia tetapi juga di negara lain.

Kalau perbedaan wartawan tulis dengan wartawan televisi apa, Pak?

Wartawan televisi itu mengandalkan pada gambar, misalnya pertandingan sedang berjalan langsung diliput dan disiarkan, kita sudah menonton saat itu juga. Sedangkan wartawan tulis, pertandingan sedang berjalan mereka juga menonton tetapi menulisnya setelah pertandingan selesai. Kita baru membaca koran sore hari atau pagi harinya saat koran terbit. Karena itu wartawan tulis harus lebih cerdas, cermat, lebih canggih.

Enaknya menjadi wartawan apa, Pak?

Seperti saya sama Presiden kenal, sama menteri kenal, sama pengusaha-pengusaha gede kenal, sama orang susah kenal, sama orang biasa kenal dan juga dikenal. Makanya wartawan itu disebut kuli tinta, tapi juga ratu dunia. 

Kenapa menurut Bapak menjadi wartawan itu menarik?

Karena pekerjaannya tidak selesai-selesai. Meski hari ini selesai, tapi besok ada lagi. Jadi tantangan itu ada terus. Sedikit banyak pekerjaan wartawan itu ada risiko.