Tuesday, March 7, 2017

Wow Ini Dia! Syamsudin Uba: Saya Siarkan Kekhilafahan Baghdadi. (Apakah terlibat ISIS)?

info-terkini.com
info-terkini.com
Syamsudin Uba memimpin pertemuan yang dihadiri sekitar 100 orang dari berbagai penjuru Pulau Jawa di Masjid Asy Syuhada, Gunung Sahari, Jakarta Pusat, 14 Februari. Beberapa hari kemudian, media Australia, ABC, memberitakan kajian di masjid itu bagian dari propaganda ISIS.

Pengurus masjid kelimpungan, menyebut masjid mereka hanya dipinjam. Mereka lantas memecat pengurus seksi dakwah Masjid Asy Syuhada yang mengundang Syamsudin Uba datang ke masjid itu.
Melacak Kebenaran Propaganda ISIS di Masjid Jakarta

Ditemui di Islamic Centre Bekasi, Jumat (26/2), oleh wartawan CNNIndonesia.com Abraham Utama, Syamsudin Uba menceritakan versinya soal pertemuan itu, juga tentang aksi deklarasi dukungannya terhadap Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Bundaran HI pada Maret 2014.


Anda menyebarkan ajaran radikal dan mengajak orang untuk berbaiat pada ISIS?

Saya tidak menyebarkan ajaran ISIS di Indonesia. ISIS secara struktural juga tidak ada di Indonesia. Bohong jika saya disebut menyebarkan ajaran ISIS di Indonesia.

Saya menyebarkan ajaran khilafah aala minhaj nubuwwah (sesuai jalan terang kenabian). Kami sosialisasi kekhilafahan yang dipimpin Syekh Abu Bakr al-Baghdadi, bukan ISIS, karena ISIS tidak ada di Indonesia. Saya membantah semuanya.


Bagaimana dengan deklarasi dukungan terhadap ISIS di Bundaran HI, Minggu 16 Maret 2014?

Saya yang mendeklarasikan.


Itu dukungan untuk ISIS?

Itu euforia umat Islam, di mana terhadap sebuah kelompok yang sudah menegakkan hukum Allah, kami, orang beriman, berhak memberikan dukungan, bahwa ISIS sudah menegakkan hukum Allah.

Aksi itu resmi, ada surat ke Polda Metro Jaya. Suratnya mungkin masih ada di Polsek Jakarta Pusat.

Harus terbuka bahwa Bahrumsyah, Fahri, dan saya. Bahrum sudah berangkat ke Suriah. Fahri sudah ditangkap dan sudah divonis lima tahun. Saya sudah dimintai keterangan oleh Densus 88 di Polda NTT.


Dukungan apa yang diberikan saat itu?

Sekadar untuk mendukung Islam dan menegakkan hukum Allah. Setelah itu kami bubar, tidak ada struktural. Garis komunikasi sudah selesai, masing-masing dakwah. Tidak ada koordinasi setelah itu.


Siapa saja yang memberikan dukungan?

Kalau dihitung, saat itu sekitar seribu orang lebih. Data saya yang pegang, mereka dari berbagai wilayah. Ada yang dari luar Jawa, Kalimantan, Sumatra. Paling banyak dari Jawa –Jabodetabek, Bandung, dan Cianjur. Satu kelompok itu sepuluh orang. 


Bagaimana bisa seribu orang itu bisa berkumpul di Bundaran HI dan memberikan dukungan kepada ISIS?

Kami bagi selebaran saja. Car Free Day itu untuk semua orang. Kami mengajak, tidak memaksa. Mengajak agar negara kita menjalankan hukum Allah, tapi tidak boleh dengan kekerasan karena negara ini adalah negara dakwah, bukan negara peperangan.


Ajakan itu juga disampaikan pada pengajian dan forum lain di masjid?

Tidak ada. Kami kan punya majelis taklim masing-masing. Ustaz Fahri dengan faksinya, Bahrum dengan kelompoknya, begitu juga saya. Kami koordinasi untuk mengajak semua umat Islam bergabung dan mendukung ISIS yang menegakkan hukum Islam. 

Setelah itu sudah tidak ada. ISIS pun bubar pada tanggal 1 Ramadhan 1435 Hijiriah, deklarasi khilafah di UIN Syarif Hidayatullah. Saat itu ISIS sudah tidak ada. Itulah kami sosialisasikan khilafah dengan kajian ilmiah kepada masyarakat, di masjid-masjid, di komunitas mahasiswa. 

Kami diskusi ilmiah, tidak memaksa. Kalau ada yang membantah, kami diskusikan secara ilmiah, tidak boleh dengan kekerasan.


Apa yang selama ini Anda dakwahkan? 

ISIS kan sudah bubar, jadi secara struktural tidak ada. Kami mendakwahkan khilafah, melalui dakwah tauhid, fikih, dan kajian dunia Islam.

Kajian dunia Islam itu kan banyak, kami ambil dari mana saja. Khilafah sudah tegak secara ekonomi, semua kebutuhan masyarakat dibebaskan oleh negara khilafah. Itu kan jaminan. Tegaknya dunia Islam itu bisa memberikan makmum.

Itu bukan cerita, tapi kisah nyata. Tergantung masyarakat, mau mendukung atau tidak, kami tidak memaksa. 

HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) juga khilafah, kenapa mereka tidak disorot? Justru kami? ISIS kan sudah bubar 29 Juni 2014. Kami justru berbalik bertanya, kenapa negara mempermasalahkan ISIS? Siapa orang-orangnya? Negara mengafirkan orang. Kami tidak berani mengafirkan orang. 

Kalau kami salah dalam menyebarkan ajaran khilafah, kami minta ulama menasihati kami. Diskusi, kami akan taat selama dalil yang memperbolehkan, kalau Alquran dan hadis memang begitu.


Ajaran Anda sama dengan HTI?

Sama. Organisasi mereka bahkan lebih besar. Kami hanya majelis taklim kecil. Kajian kami normatif, di kampus boleh, di mana-mana boleh.

Khilafah itu kan jaminan dari Nabi Muhammad SAW. Kalau Islam berdinamika kan enak. Kalau Alquran dan hadis sudah menilai, kami harus patuh. Kalau ulama berbicara, kami harus hargai. Kalau tauhid harus sama.


Tidak ada ajakan bergabung ke ISIS?

Kami tidak punya hak. Kami hanya memaparkan dalil saja, tentang hijrah. Semua ulama juga mengajarkan hijrah. Hijrah ke mana, terserah. Tapi Nabi katakan, hijrah yang paling baik adalah di Syam.

Orang beriman akan berbondong-bondong ke sana. Orang yang kotor akan keluar dengan sendirinya. Ada yang sudah mencari suaka.

Negeri Syam ialah wilayah di timur Laut Mediterania, tempat munculnya agama samawi –Yudaisme, Nasrani, dan Islam. Umat Islam menganggap Negeri Syam sebagai negeri kebaikan. Negeri ini merujuk ke sejumlah tempat di Timur Tengah, antara lain Yordania, Libanon, Palestina, dan Suriah yang kini menjadi ‘Kerajaan’ ISIS.


Majelis taklim Anda sering bicarakan ISIS?

Tidak, ini spontan saja. Begitu kami tahu ISIS di media, kami kumpul. Tidak didesain begitu. Kami deklarasi bukan daulah Irak, setelah kami tahu, kami dukung spontan saja. 

Sama seperti mendukung pembebasan Masjid Al Aqsa, Taliban, Osama bin Laden. Sebagai orang muda, kami senang. Sama seperti orang menonton bola. Kami lebih condong kepada dukungan kepada saudara. Kalau saudara kami sudah menegakkan hukum Allah, kami ikut. 

Hukum yang ada di Suriah dan Irak, tidak mungkin diterapkan di negara ini. Saya sudah sampaikan ke Polda NTT. Aturan negara ini adalah aturan buatan manusia, silakan-silakan saja. Kalau dilawan, ya masuk penjara. Tapi negara kan memperbolehkan orang berpendapat dan berserikat. 


Sebelum 16 Maret, Anda sudah rutin mengadakan pengajian di Jakarta? 

Saya ini alumni Menteng, Gerakan Pemuda Islam (GPI). Saya salah satu ketua bidang di GPI. Saya juga termasuk pengurus Masjid Al Fataa. Saya tahu Menteng.

Ketika saya tidak jadi berstatus pengurus dan saya lihat masjid itu sepi, saya ajak majelis taklim saya untuk masuk ke sana, mengadakan pengajian tentang khilafah, dinar, dan dirham.

Pembicaranya dan undangannya umum. Kami undang via Facebook. Yang datang tidak bayar dan berbayar. Mereka datang sendiri. 

Pengajian itu dilakukan sebulan dua kali, pada pekan kedua dan keempat.


Sejak kapan pengajian di Menteng itu berlangsung?

Sempat setahun sebelum diisukan bahwa kami mengajarkan ISIS. Penduduk Menteng tidak lagi memperbolehkan kami sehingga kami kembali ke Bekasi.
Masjid Al-Fataa: Tak Ada Pengajian Garis Keras Sejak Lebaran

Selain di Al Fataa, Anda menggelar pengajian di tempat lain?

Tidak ada. Kami cukup di Al Fataa dan Islamic Centre Bekasi. Di Bekasi kami membuat surat resmi. Baru kemarin, sekali, di As Syuhada
Dikaitkan dengan ISIS, Masjid Jakarta 'Dipinjam' Orang Asing
Kami menggunakan prosedur resmi untuk meminjam Al Fataa. Kami tujukan surat ke pengurus dan ditembuskan ke RT.


Simak wawancara bagian berikutnya, Syamsudin bercerita tentang penangkapannya oleh Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur dan komentarnya tentang teror Thamrin.
Syamsudin Uba: Saya Tak Merusak Negara, Kok Ditangkap(agk)
info-terkini.com


EmoticonEmoticon