Tuesday, February 14, 2017

Polisi: Tersangka IA Diperintah Bachtiar Nasir Cairkan Dana Yayasan

info-terkini.com
info-terkini.com
Bareskrim Polri menentapkan pegawai bank, Islahudin Akbar alias IA, sebagai tersangka kasus dugaan pencucian uang terkait penyalahgunaan dana Yayasan Keadilan untuk Semua (Justice for All) kepada pihak lain.

Peran IA sebagai pegawai bank yang diperintahkan Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI, Bachtiar Nasir alias BN, mencairkan dana dari rekening yayasan tersebut.

Diketahui rekening yayasan tersebut menampung miliaran rupiah sumbangan masyarakat untuk Aksi 411 dan 212 yang digalang para tokoh GNPF-MUI.

"Dia disuruh cairkan dana oleh BN," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Rikwanto, saat dihubungi, Senin (13/2/2017).

Rikwanto membeberkan, IA adalah pegawai bank yang mendapat kuasa untuk mengurus masuk dan keluarnya dana dari rekening yayasan tersebut.

IA juga kenal dekat dengan Bachtiar Nasir.

"Dia rekannya BN. Dia dari pihak BN," jelas Rikwanto.

Saat ditanya kenapa Bachtiar Nasir selaku pemberi perintah pencairan dana ditetapkan terlebih dahulu sebagai tersangka, Rikwanto menjawab,

"Kan nanti masih pemeriksaan (Bachtiar Nasir). Itu kan teknisnya (strategi) penyidik."

Diberitakan, penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus (Dit Tipideksus) Bareskrim Polri menetapkan pegawai bank, Islahudin Akbar.

Ia menjadi tersangka kasus dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dengan tindak pidana asal penyimpangan atau pengalihan kekayaan yayasan kepada pembina, pengurus dan pengawas, baik dalam bentuk gaji, upah maupun honorarium.

Islahudin Akbar dijerat Pasal 5 Undang-undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Yayasan dan UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Yayasan yang dimaksud adalah Yayasan Keadilan untuk Semua atau Justice for All.
Yayasan ini menampung sumbangan dari masyarakat untuk Aksi 411 dan 212 yang digalang GNPF-MUI.

Penangung jawab penggalangan dana adalah Bachtiar Nasir, Zaitun Rasmin dan Luthfie Hakim.

Kasus ini diproses berdasarkan temuan internal Dit Tipideksus Polri.

Penyidik telah memiliki bukti adanya dugaan pidana pencucian uang ini.

Di antaranya adanya laporan aliran dana atau rransaksi mencurigakan yayasan tersebut dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).

Penyidik juga sudah memerika puluhan saksi dan menggeledah rumah Adnin Armas yang dijadikan sebagai kantor Yayasan Keadilan untuk Semua.

Sedianya, Bachtiar Nasir diperiksa penyidik di kantor Bareskrim Polri, Gedung KKP, Gambir, Jakarta Pusat, pada Senin, 13 Februari 2017.

Pemanggilan pemeriksaannya karena pemeriksaan sebelumnya, Jumat, 10 Februari 2017, Bachtiar Nasir meminta izin agar penyidik menyudahi pemeriksaan karena mengaku ada pejerjaan.

Pada pemeriksaan sebelumnya, Bachtiar Nasir sempat mengaku dana yang terkumpul dari sumbangan umatbdan ditampung di rekening yayasan itu sebesar Rp 3 miliar.
Namun, ia membantah terlibat dalam pencucian uang dana umat tersebut.(sb/tribunnewscom)
info-terkini.com


EmoticonEmoticon