Sunday, January 22, 2017

Sopi, Minuman Para Dewa di Maluku

info-terkini.com
info-terkini.com

Sopi, Minuman Para Dewa di Maluku


Minuman Cap Tikus atau sopi merupakan minuman khas tradisional masyarakat di Indonesia timur, khususnya Maluku. Minuman ini sudah mendarah daging bagi masyarakat di sana, karena sopi hadir di setiap kegiatan upacara adat.

Namun, minuman ini membuat pemerintah dilema apakah harus dilegalkan atau tidak, karena sopi memiliki kadar alkohol 30%, masuk ke dalam minuman keras golongan C yang sangat berbahaya bagi tubuh. 
Ilustrasi Sopi
Ilustrasi

Cap Tikus dibuat dari pohon aren dengan cara penyadapan, kemudian diambil air niranya atau dalam bahasa Maluku di sebut sageru. Air nira yang disuling dengan suhu panas tertentu akan menguap, kemudian air dari uap itulah yang disebut sopi. 

Minuman yang sudah hadir dalam kehidupan masyarakat Maluku ini dibuat sendiri oleh para petani dari daratan Minahasa dan Sangir, tanpa ada campuran kimia apapun. Namun, masyarakat di sana percaya bahwa minuman Cap Tikus ini dibuat oleh dewa. 

Sejarah Minuman Dewa


Masyarakat mempercayai ada beberapa dewa yang tinggal di tengah hutan, pertama ada yang bernama Dewa Makawiley, kedua ada Dewa Kiri Waerong yang dihubungkan dengan pembuatan gula merah dari saguer yang dimasak. Dewa yang ketiga ini yang dianggap sebagai pembuat sopi, ia bernama Dewa Parengkuan. 

Parengkuan berasal dari kata “rengku” dengan arti, minum sekali teguk di tempat minum yang kecil. Dari arti kata tersebut maka orang Minahasa menyakini bahwa Parengkuan adalah orang Minahasa pertama yang membuat minuman beralkohol ini.

Awalnya minuman ini bernama sopi, namun sebelum tahun 1829 beberapa orang Minahasa menemukan sopi dalam botol-botol biru dengan gambar ekor tikus. Saat itu, para pedagang China menjualnya di Benteng Amsterdam Manado.

Sopi biasanya hadir saat upacara naik rumah baru. Para penari Maengket menyanyi lagu Marambak untuk menghormati dewa pembuat rumah, leluhur Tingkulendeng. Tuan rumah harus menyodorkan minuman Cap Tikus kepada pemimpin upacara adat, Tonaas, naik rumah baru sambil penari menyanyi “tuasan e sopi e maka wale”, artinya tuangkan Cap Tikus wahai tuan rumah.

Dirangkum dari beberapa sumber, nama Cap Tikus muncul dalam buku "Perjalanan keliling dunia Antonio Pigafetta” terbitan tahun 1972 halaman 127-128. Pada tahun 1521, pelaut asal Spanyol, Antonio Pigafetta tiba di Ternate dan dijamu oleh Raja Ternate dengan menyuguhkan minuman arak yang terbuat dari air tuak yang dimasak.  

Namun, para peneliti menganggap bahwa masyarakat Ternate tidak punya budaya “Batifar” (menyerap air dari pohon) hingga kemungkinan besar minuman Cap Tikus sama halnya dengan beras yang didatangkan ke Ternate dari Minahasa.

Selain minuman para dewa, pembuatan sopi juga menjadi salah satu pekerjaan untuk meningkatkan ekonomi. Di samping membuat gula aren, masyarakat yang berada di tengah hutan juga meracik minuman ini.

Namun, pemda setempat berencana untuk melegalkan Cap Tikus ini guna mengontrol pembuatan dan kadar alkoholnya. Hal itu disebabkan banyak warga yang meninggal akibat sering meminumnya, sehingga meresahkan masyarakat. 

Padahal, ini adalah minuman turun temurun yang hanya harus diminum saat upacara atau kegiatan adat.(sb/merdekacom)
info-terkini.com


EmoticonEmoticon