Sunday, December 25, 2016

Bisakah Berantas PUNGLI?

info-terkini.com
info-terkini.com

Bisakah Berantas PUNGLI?


Dalam dua bulan terakhir setiap hari akun media sosial saya tidak pernah sepi dari isu pungli. Setelah sidak ke Magelang, saya kira pengaduan masyarakat akan mereda. Ternyata malah berkali-kali lipat banyaknya.

Masyarakat seperti dikompori. Mereka ramai-ramai melaporkan besaran pungli di daerahnya masing-masing. Twitter, Facebook, Instagram, dan website Laporgub saya penuh aduan.
Bebas Pungli

Dari pungli di berbagai Samsat, pengaduan e-KTP, pengurusan SIM, jembatan timbang, pengurusan sertifikat tanah, izin usaha, IMB, dan izin-izin lainnya yang berbelit-belit dan mahal. Terakhir saya baca di koran Tribun Jateng soal pungli yang merebak di pelabuhan.

Tentu tidak semua bisa saya tangani sendiri karena berhubungan dengan instansi lain. Tapi yang menjadi domain Pemprov Jateng, saya pastikan cepat-lambat akan ketahuan. Bisa dari sidak yang akan terus saya lakukan secara rutin atau laporan masyarakat.

Tidak banyak yang tahu bahwa saya sudah memecat puluhan pegawai Pemprov Jateng karena pelanggaran, baik itu pungli atau tindak indisipliner lain. Yang masih berani main-main silakan, cepat atau lambat pasti ketahuan.

Terutama pungli di Samsat yang membuat saya benar-benar meradang. Ekonomi global yang memburuk telah mempengaruhi ekonomi nasional dan menular sampai tingkat lokal.

Semua provinsi, termasuk Jawa Tengah yang saya pimpin mengalami kesulitan pendapatan. Padahal hampir seluruh provinsi di Indonesia pendapatannya bergantung pada pajak kendaraan.

Ketika orang dengan sadar datang sendiri ingin menyetorkan uangnya, melaksanakan kewajibannya sebagai warga Negara yang baik, ee.. ternyata dipungli. Ambil formulir bayar, cek fisik bayar, ambil plat bayar lagi. Tentu tidak semua Samsat melakukan itu, tapi laporan datang demikian banyak.

Maka saya putuskan kemarin turun sendiri bersamaan dengan jadwal keliling daerah. Tidak ada target khusus sebenarnya.

Kebetulan saja kemarin jadwalnya ke Magelang. Saya diundang memberi kuliah umum di Universitas Muhammadiyah Magelang. Juga ada agenda mengecek beberapa proyek yang anggarannya dari bantuan keuangan Pemprov Jateng.

Sidak itu tidak ada yang tahu. Saya tidak memberi tahu siapapun. Bahkan, ajudan dan petugas polisi pengawalan juga tidak tahu. Saya pun tidak menyalahkan ketika mobil patwal itu kebablasan sendiri, jalan terus, tanpa tahu saya sudah berbelok ke Kantor Samsat.

Sejak turun dari mobil hingga bertemu beberapa petugas, saya melihat situasi yang wajar-wajar saja. Petugas-petugas yang saya temui menampakkan wajah yang ramah.

Beberapa titik yang saya cek menunjukkan pelayanan yang baik. Hingga terakhir saya mengecek ke bagian pelayanan umum di mana banyak orang duduk-duduk menanti pelayanan.

Spontan saya tanya seorang bapak. "Sedang mengurus apa?"

"Pajak lima tahunan," jawabnya.

"Mbayar tidak?"

"Mbayar, lima puluh ribu," katanya.

Mendengar jawaban itu denyut nadi saya tiba-tiba berdetak kencang. Dada saya terasa sakit.

Kemudian saya minta bapak itu menunjukkan petugas yang minta uang. Saya sendiri antar beliau ke loket.

Yang mengejutkan, begitu sampai loket, petugas polisi itu sudah di depan pintu. Di tangannya sudah tergenggam uang lima puluh ribu. Mungkin ketika saya bertanya-tanya pada bapak itu tadi, ada temannya yang melihat dan langsung berlari memberi tahu.

Di depan saya, uang itu diserahkan. Saya lihat tangan petugas itu bergetar. Setelah menyerahkan, petugas yang baru kemudian saya tahu dari berita bernama Dani itu menyalami saya sembari mencium tangan. Saya merasa tidak enak.

Kemudian ramai. Social media, media online, dan televisi nasional hari itu menyiarkan sidak Samsat Kota Magelang. Beberapa orang bertanya, kenapa saya tidak marah seperti di jembatan timbang?

Ya, saya memang bisa saja marah dengan lebih meluap-luap dari pada dulu. Bisa saja saya meminta semua laci di loket itu dibuka untuk melihat ada berapa uang hasil pungli hari itu. Tentu akan lebih heboh. Tentu berita di media lebih besar.

Tapi tidak. Saya menahan diri. Toh marah di depan kamera ternyata tidak menambah efek jera. Karena, yang penting follow up-nya.

Saya putuskan mengajak teman-teman di sana bicara sebagai sama-sama orang dewasa. Saya katakan, rakyat sudah susah dan saya tahu kita semua masing-masing punya kesusahan dan keluarga yang membutuhkan nafkah.

Jadi tidak perlulah menambah beban. Mari saling membantu. Bekerja sesuai aturan, melayani rakyat dengan nyaman, saling membantu, dan menjadi teladan dalam kebaikan.

Saya mengapresiasi respons Polda Jateng yang luar biasa. Sehari kemudian, saya dengar petugas itu sudah mendapat sanksi. Pak Kapolda dan Pak Dirlantas mengumpulkan seluruh kapolres dan kasatlantas di Mapolda, mengeluarkan perintah pemberantasan pungli di Jateng.

Di seluruh samsat, Polda meminta pemasangan banner dan sosialisasi tidak adanya pengenaan biaya pada cek fisik kendaraan di samsat. Polda juga membuat wearpack yang digunakan petugas cek fisik bertuliskan "tidak menerima biaya" di punggungnya.
Saya juga mengapresiasi Kapolres Wonogiri yang berani menyatakan kesatuan yang dipimpinnya bebas dari korupsi. Beliau merancang sistem layanan yang transparan dan saya kira itu komitmen yang baik. Silakan masyarakat Wonogiri yang menilai sejauh mana pelaksanaan komitmen ini

Kalau unsur pemprov di samsat, saya sendiri sudah memanggil Kepala DPPAD (Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Aset Daerah). Beliau memastikan tidak ada petugas yang berani menarik biaya di luar ketentuan. Taruhannya jabatan. Dia siap dipecat.

Pemberantasan korupsi dan pungli memang tidak bisa saya lakukan sendiri. Untuk samsat, selain pemprov dan Polri, juga ada pihak Asuransi Jasa Raharja. Saya berharap tiga unsur ini berlomba memaksimalkan pelayanan tanpa memberatkan masyarakat.

Dan saya ingatkan bahwa respons yang sangat baik ini agar tidak hanya dilakukan sekarang ini. Tidak hanya samsat, tidak hanya setelah saya sidak. Saya ingin semua petugas pelayan masyarakat dari pemprov, pemkab/pemkot, dan instansi vertikal lain merevolusi diri.

Bagi saya, pungli adalah target utama revolusi mental. Karena, inilah korupsi yang bersinggungan langsung dengan masyarakat dan acap terjadi karena masyarakat sendiri memberi kesempatan. Inilah penyakit bangsa ini. Selama pungli masih menjalar, korupsi tak mungkin hilang.

Sulitnya, sampai sekarang belum ada formula yang benar-benar efektif memberantas pungli. Karena pencuri dan pelaku pungli (baik petugas maupun masyarakat) akan selalu mencari celah.

Hanya ada dua cara untuk mengendalikan. Pertama, mengubah sistem pelayanan publik dari manual ke digital dengan memaksimalkan teknologi informasi. Kurangi sentuhan manusia dengan manusia, semua digital dan transparan. Tapi untuk menuju ke arah ini butuh waktu dan pengubahan regulasi.

Kedua, ya saya harus sidak terus-menerus. Karena, sekali lagi ini masalah mental. Persis seperti pengendara motor yang hanya memakai helm kalau ada polisi. Oknum petugas pungli hanya "tiarap" setelah saya sidak.(sb:kompas.com)

Ketika sidak berhenti, ya pungli lagi. Seperti lagu "Pungli" yang dipopulerkan Benyamin Sueb pada 1970-an.

Ade yang di kolong meja 
Ade yang di tengah jalan 
Ade yang memang sengaja di taruh dalam lipatan
info-terkini.com


EmoticonEmoticon